Pemanfaatan AI merambah banyak sektor termasuk perpajakan. Simak peluang baru yang dibuka tren sertifikasi perpajakan pada tahun 2024.
LSP SDM Pajak Modern ยท 3 Oktober 2024
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merupakan bukti semakin canggihnya perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan AI telah melingkup banyak bidang seperti telekomunikasi, perbankan, manufaktur, jasa hingga di sektor perpajakan. Dalam era digital ini, AI tidak terbatas hanya memengaruhi bagaimana proses perpajakan dilakukan, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi para profesional pajak untuk meningkatkan keterampilan mereka. Tren sertifikasi perpajakan di tahun 2024 menghadapi transformasi besar karena semakin merebaknya peran AI. Apa saja peluang-peluang tersebut? Simak artikel ini hingga akhir!
AI banyak digunakan dalam proses pengolahan data perpajakan, sebab memungkinkan proses menjadi lebih efisien dan mengurangi human eror. Di Indonesia, penggunaan AI semakin meningkat seiring dengan digitalisasi administrasi perpajakan. Pemanfaatan AI ke dalam sistem administrasi tersebut seperti dalam hal pemrosesan data real-time yang memungkinkan DJP untuk memantau transaksi keuangan di sistem perbankan. AI dapat mendeteksi pola abnormal yang mengindikasikan upaya tax avoidance atau tax evasion. AI juga membantu dalam sistem e-Faktur yang digunakan untuk memverifikasi faktur elektronik secara otomatis untuk memastikan kesesuaian dengan syarat yang berlaku dan penyandingan data yang dapat mendeteksi perbedaan antara faktur pernjualan dan faktur pembelian.
Seiring dengan kemajuan teknologi, peluang terciptanya sertifikasi baru yang dirancang untuk beradaptasi dengan kebutuhan teknologi di era digital akan semakin meningkat. Tidak hanya itu, sertifikasi pajak akan semakin mengintegrasikan modul-modul dengan berfokus pada teknologi pajak. Sehingga para profesional diharuskan untuk memahami pengetahuan pajak dan teknologi pajak yang digunakan. Kehadiran AI juga akan menghadirkan metode evaluasi yang lebih interaktif serta berbasis teknologi, seperti ujian yang dilakukan dengan simulasi komputer secara langsung dan kemampuan menganalisis data pajak dengan menggunakan alat dgital dan teknologi.
Sertifikat keahlian semakin gencar dikumpulkan untuk menjadi nilai tambah bagi para prosesional yang ingin bekerja. Hal ini bukan tanpa alasan, karena seiring dengan berjalannya waktu, maka semakin banyak pula profesional lain dengan keahlian dan pendidikan yang sama, sehingga diperlukan skill lain yang dapat menjadi value diri untuk membedakan dengan profesional lain, sehingga peluang kerja lebih besar. Para profesional di bidang pajak diharapkan memiliki keahlian kombinasi baik di bidang pengetahuan perpajakan dan teknologinya. Lebih baik mempersiapkan dengan matang untuk hasil yang lebih konkrit dan optimal. Kemampuan yang disiapkan juga dapat mencakup bidang lain seperti bahasa, public speaking, hingga leadership. Jadi tidak terbatas hanya teori pajak dan teknologinya saja.
Dengan semakin banyaknya bisnis yang mengadopsi teknologi AI, maka layanan konsultasi pajak yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara-cara tradisional seperti bertatap muka dengan datang langsung ke kantor kini bisa disesuaikan dengan layanan konsultasi pajak secara online. Tidak hanya itu, tren pembelajaran dan pelatihan online akan terus berkembang. Banyak tersedia kursus dan sertifikasi pajak secara online, hal ini meningkatkan fleksibilitas bagi para profesional pajak untuk meningkatkan skill mereka tanpa harus meninggalkan pekerjaa mereka, sehingga semua bisa tetap berjalan beriringan.
Sebagaimana layaknya teknologi pada umumnya yang dibuat dan digunakan oleh manusia, maka manusia juga yang dapat menyalahgunakan teknologi tersebut untuk aktivitas yang tidak bertanggung jawab. Penerapam teknologi seperti AI dalam perpajakan membawa dampak besar seperti meningkatkan efisiensi dan akurasi serta menghemat waktu dibandingkan dengan cara konvensional. Namun, penggunaan AI dalam perpajakan sering memicu pertanyaan terkait etika dan kepatuhan. Sejumlah tantangan etis yang perlu dikelola dengan baik untuk menghindari dampak negatif. Bahaya penyalahgunaan AI diantaranya seperti kejahatan siber, peretasan, atau pencurian data membuat kepercayaan pengguna naik turun.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa AI membawa banyak sekali kekhawatiran dalam penggunaanya. Oleh karena itu, sertifikasi akan lebih menekankan pentingnya pemahaman regulasi, kebijakan privasi, dan cara penggunaan teknologi AI agar tidak melanggar Undang-undang Perpajakan. Sertifikasi pajak yang disesuaikan dengan era AI memiliki peran yang sangat krusial dalam memastikan para profesional pajak memahami dan mengatasi tantangan etika tersebut. Sertifikasi perpajakan dapat disesuaikan dengan menambahkan modul yang fokus pada etika AI dan praktiknya untuk memastikan akuntabilitas AI.
Selain itu, pelatihan berkelanjutan dalam pengelolaan data dan privasi juga diperlukan untuk mengajarkan bagaimana melindungi data wajib pajak dari pelanggaran AI. Hal penting lainnya yaitu cara pengambilan keputusan berdasarkan sistem AI, di mana para profesional harus memahami cara pengambilan keputusan tidak hanya berdasarkan sistem AI tetapi disesuaikan dengan keadaan dan situasi yang terjadi dan agar tidak melanggar undang-undang. Sertifikasi yang baik juga hendaknya mengatur cara penggunaan AI baik secara lokal maupun internasional dan pemahaman tentang regulasi di dalamnya. Di luar itu semua, pelatihan dalam sertifikasi pajak yang mencakup bagaimana menggunakan AI sebagai alat bantu dan bukan sebagai pengganti manusia adalah hal yang paling penting.